Belajar Sosiologi buat Apa?

Halo, guys! Perkenalkan, nama gue Adam Bagaskara. Gue merupakan salah satu tutor di Zenius, serta gue bergabung bagaikan tutor mata pelajaran Sosiologi. Kalo lo seluruh suka baca Zenius Web, lo tentu dah sering di dengar, dong, dengan tulisan- tulisan keren para tutor Zenius. Topik- topiknya pula keren banget, dari Fisika, Sejarah, Matematika, Hayati, Teknologi, Linguistik, sampe Filosofi pula terdapat! Tetapi, kayaknya mata pelajaran Sosiologi belum sangat banyak dikupas, nih. Makanya gue pengen banget nulis tentang Sosiologi.

Ya… Sosiologi! Nah, kerap banget, nih, kalo gue ketemu orang, mereka denger suatu ilmu yang bernama Sosiologi aja udah“ sensi” duluan. Kesannya seperti Sosiologi itu ilmu yang boring, gak explorable, dll. Sementara itu, sebenernya banyak banget yang dibahas di Sosiologi, tetapi kayaknya cabang ilmu ini dianaktirikan sebab banyaknya miskonsepsi dan salah kaprah.

Hayo! Jangan- jangan, lo tercantum salah satu dari yang menyepelehkan Sosiologi, nih! Kalo iya pula gak apa- apa, kok. Malah gue hendak buktikan ke lo seluruh kalau Sosiologi merupakan cabang ilmu yang menarik, gak kalah menariknya dengan cabang- cabang ilmu lain yang terkenal. So, izinkan gue buat meyakinkan lo hendak perihal tersebut, diawali dari tulisan awal gue ini https://voi.co.id/ .

Jadi sesungguhnya Sosiologi itu belajar tentang apa, sih? Banyak yang mikir kalau Sosiologi itu belajar moral& etika. Gak sedikit pula yang menyangka kalau Sosiologi itu“ hanya” teori doang. Terus, yang bener apa, dong? Nah, di postingan ini, secara spesial gue hendak mengupas tentang bermacam kesalahpahaman orang tentang Sosiologi.

Salah Kaprah 1: Sosiologi itu Belajar tentang Etika

Saat sebelum menarangkan iktikad dari poin ulasan awal, bisa jadi kita butuh bahas dahulu apa itu etika. Etika merupakan salah satu cabang filsafat yang menekuni tentang perihal yang dikira baik serta kurang baik. Dalam sesuatu warga, etika jadi standar evaluasi ataupun penentuan moral.

Dalam Sosiologi, prinsip etika tertuang dalam konsep norma. Norma itu apa, sih? Norma merupakan seperangkat ketentuan dalam warga yang memastikan perihal mana yang dikira baik serta mana yang dikira kurang baik. Bagaikan contoh, di warga Indonesia yang menghargai norma kesopanan, berdialog dengan metode yang tidak sopan kepada orang tua dapat dikira bagaikan suatu yang tidak etis( tidak cocok dengan etika).

Dengan menekuni Sosiologi, kita bisa menguasai apa yang dikira baik serta apa yang dikira kurang baik oleh sesuatu warga. Tetapi, itu bukan berarti kalau menekuni Sosiologi sama dengan belajar beretika, ataupun menekuni gimana triknya jadi seseorang anggota warga yang baik. Walaupun pastinya perihal ini dapat saja dicoba dengan membiasakan sikap serta perbuatan kita dengan norma yang berlaku dalam sesuatu warga yang kita lihat. Dengan menguasai Sosiologi, kita jadi ketahui konteks besar dalam pemikiran bermasyarakat, tetapi bukan berarti ilmu Sosiologi menyuruh ataupun menuntun kita jadi warga yang“ baik” ataupun“ kurang baik”.

Apakah ini berarti kalau berperan cocok kehendak warga merupakan sesuatu perihal yang tidak berarti? Tidak pula. Yang jelas, tugas utama seorang yang menekuni Sosiologi merupakan menguasai kenapa sesuatu fenomena sosial terjalin di warga. Apalagi, bila memanglah butuh, hendak lebih baik lagi bila orang tersebut bisa menguasai gimana fenomena ataupun kasus sosial wajib ditanggapi ataupun dituntaskan.

Setelah itu, buat bisa menguasai kenapa sesuatu fenomena sosial terjalin pada warga dengan sebaik- baiknya, seorang yang menekuni Sosiologi butuh“ melepas” seperangkat nilai serta norma yang dimilikinya supaya dia tidak memandang fenomena tertentu secara bias. Bias yang diartikan merupakan perbenturan yang terjalin di antara nilai serta norma yang dipunyai seorang dengan perihal yang diamatinya.

Baca Juga : Kenali ERP System Dan Keuntungannya Untuk Bisnis Kamu!

Misalnya nih, lo lagi mengamati fenomena transgender. Ketika

lo berkembang di suatu warga yang secara dominan cuma mendikotomikan gender ke dalam 2 kelompok—laki- laki serta perempuan—mungkin hendak membuat lo nganggap kalau sikap para transgender menyimpang ataupun apalagi salah. Kala lo telah terlebih dulu membagikan evaluasi ataupun penghakiman kalau sikap para transgender tersebut menyimpang ataupun salah, dapat jadi lo malah melupakan tugas utama lo, ialah menguasai kenapa para transgender berperilaku dengan cara- cara tertentu ataupun pola- pola tertentu. Ingat, jadi seseorang sosiolog ataupun researcher dalam bidang sosiologi berarti lo wajib menyampingkan nilai- nilai orang yang bagi lo secara individu benar, setelah itu lo wajib fokus pada metodologi yang valid dalam mengupas suatu fenomena kemasyarakatan dari sudut pandang yang netral.

Dalam menekuni warga, berarti supaya kita menjauhi pemikiran yang bias. Sebabnya simpel, pemikiran yang bias malah hendak menjauhkan kita dari uraian yang obyektif tentang sesuatu warga. Ulasan ini berkenaan dengan salah satu watak Sosiologi yang kita pelajari, ialah non- etis. Semacam yang sudah kita tahu, perilaku non- etis berarti memandang serta menguasai fenomena sosial tanpa membagikan evaluasi baik/ kurang baik ataupun benar/ salah. Tujuan akhir dari berlagak non- etis merupakan menguasai warga secara objektif ataupun tanpa bias, sehingga kita dengan sebaik- baiknya bisa menguasai kenapa sesuatu fenomena sosial terjalin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *